Dari data tersebut, sekitar 74 persen kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan 78 persen melibatkan sepeda motor. Mayoritas kejadian terjadi pada pukul 15.00 hingga 18.00 WITA, dalam kondisi cuaca cerah dan jalan yang relatif baik.
Polda Sulawesi Selatan juga telah memetakan titik rawan kecelakaan di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum turut diperkuat melalui 89 unit ETLE, terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.
“Banyak korban meninggal bukan semata karena kecelakaan, tetapi karena terlambatnya penanganan awal. Penanganan dalam golden period sangat menentukan peluang keselamatan korban,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan juga menyepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya penguatan edukasi keselamatan berkendara di titik rawan, perluasan program E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota, serta integrasi sistem rumah sakit dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan jaminan perawatan bagi korban.
Selain itu, diusulkan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder guna menekan fatalitas korban di tahap awal penanganan.
Dari sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan peningkatan dan pemeliharaan jalan sepanjang 1.000 kilometer pada periode 2025–2027. Sementara itu, Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga koridor.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Jasa Raharja menilai keselamatan transportasi tidak dapat ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi berkelanjutan berbasis data dan kondisi lokal di setiap daerah.
Halaman : 1 2









