“Untuk jalan tol dan jalan arteri yang menuju ke Merak, kenaikan jumlah kendaraan akumulasinya mencapai 42%. Jadi, pada H-10 ada kenaikan 14,7%, sedangkan H-9 kenaikannya mencapai 82%. Artinya, WFA ini juga sangat baik dalam mempengaruhi kondisi di penyeberangan Pelabuhan Merak-Bakauheni dan yang menuju ke Trans Jawa. Untuk puncak arus mudik yang diprediksi pada H-3, nanti akan kami lihat traffic counting-nya untuk menentukan apakah perlu dilakukan one way dan contra flow,” ujar Agus.
Khusus untuk menghadapi lonjakan kendaraan menuju Pelabuhan Merak, Korlantas Polri telah menyiapkan skema delay system. Agus menjelaskan, “Delay system itu berantai. Ketika sudah mendekati kondisi kuning di KM 68, itu sudah mulai delay system. Jika antrean masih panjang, nanti akan kami tarik lagi delay system mulai di KM 43. Jika masih padat, kami tarik lagi ke KM 13. Jadi mekanisme dan skenario sudah kami siapkan semuanya. Kami sudah koordinasi dan berkali-kali mendapatkan arahan dari Pak Menteri untuk bisa berkolaborasi.”
Dalam kesempatan ini, Direktur Utama PT Jasa Raharja, Rivan A. Purwantono, mengingatkan pemudik untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam perjalanan mudik maupun balik Idulfitri 2025. “KM 68 tak hanya menjadi titik untuk delay system, tapi juga berpotensi sebagai titik lelah. Bagi pemudik yang melakukan perjalanan jauh, jika merasa lelah, bisa memanfaatkan waktu menunggu selama delay system untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, karena keselamatan adalah yang utama,” ujar Rivan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan kesiapan yang telah dilakukan oleh semua pihak, baik Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, PT Jasa Raharja, PT ASDP Indonesia Ferry, dan stakeholder lainnya, diharapkan arus mudik Lebaran tahun ini dapat berjalan dengan lebih aman, nyaman, dan selamat.
Halaman : 1 2









